Merica perdu
Dawuhan Wetan sudah melalang
buana. Awalnya, warga Dawuhan Wetan menanam merica perdu hanya untuk selingan.
Mereka menanam di sekitar tanaman kayu. Karena hasilnya cukup lumayan, banyak
warga yang beralih menanam dan bertani tanaman dengan nama latin Piper Albi
Linn ini.
Suyitno
(62), lelaki asli Dawuhan Wetan, RT 06/RW 02 ini merupakan salah satu petani
merica perdu yang berada di desa tersebut. Sudah 3 tahun beliau menjadi petani
merica. Dengan modal awal 200 ribu, ia merintis usaha.
Di tanah
seluas 1,5 hektar milik seseorang dari Jawa Timur, ia kelola tanaman merica
perdu. Dari pembibitan hingga siap panen. Setiap pagi ia membersihkan
rumput-rumput yang tumbuh di sekitar tanaman merica dan memetik merica yang
sudah matang.
“Menanam merica perdu itu gampang, tak perlu banyak perawatan,", ujar
Suyitno.
Saat ini,
merica kering dari Dawuhan Wetan dijual dengan harga 200 ribu per kg. Di sana
juga menjual bibit merica perdu, mulai dari harga 3 ribu sampai 5 ribu per
polibag, tergantung dari tinggi dan besar tanaman. Untuk bibit yang siap tanam
atau berbuah dijual dengan harga 50 ribu per polibag.
Menurut Muchlis Sutikno, Kepala Desa Dawuhan Wetan, selain di daerah Banyumas,
merica perdu dari desanya telah dikirim ke berbagai daerah seperti Lampung,
Flores, Jambi. Sebelum Timor Leste lepas dari Indonesia, Dawuhan Wetan termasuk
salah satu penyuplai merica perdu ke daerah tersebut. Selain daerah-daerah
tersebut, merica perdu dari Dawuhan Wetan juga pernah dikirim ke Malaysia.
Sutikno juga sedang berusaha agar desanya menjadi sentra merica, mengingat
sudah hampir seluruh warganya menanam merica perdu di kebun atau pekarangan
rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar