Selasa, 12 Januari 2016

Menggali Potensi Desa: Merica Perdu Dawuhan Wetan, Banyumas

Merica perdu Dawuhan Wetan sudah melalang buana. Awalnya, warga Dawuhan Wetan menanam merica perdu hanya untuk selingan. Mereka menanam di sekitar tanaman kayu. Karena hasilnya cukup lumayan, banyak warga yang beralih menanam dan bertani tanaman dengan nama latin Piper Albi Linn ini.

Suyitno (62), lelaki asli Dawuhan Wetan, RT 06/RW 02 ini merupakan salah satu petani merica perdu yang berada di desa tersebut. Sudah 3 tahun beliau menjadi petani merica. Dengan modal awal 200 ribu, ia merintis usaha.

Di tanah seluas 1,5 hektar milik seseorang dari Jawa Timur, ia kelola tanaman merica perdu. Dari pembibitan hingga siap panen. Setiap pagi ia membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di sekitar tanaman merica dan memetik merica yang sudah matang.

“Menanam merica perdu itu gampang, tak perlu banyak perawatan,", ujar Suyitno.


Saat ini, merica kering dari Dawuhan Wetan dijual dengan harga 200 ribu per kg. Di sana juga menjual bibit merica perdu, mulai dari harga 3 ribu sampai 5 ribu per polibag, tergantung dari tinggi dan besar tanaman. Untuk bibit yang siap tanam atau berbuah dijual dengan harga 50 ribu per polibag.
 
Menurut Muchlis Sutikno, Kepala Desa Dawuhan Wetan, selain di daerah Banyumas, merica perdu dari desanya telah dikirim ke berbagai daerah seperti Lampung, Flores, Jambi. Sebelum Timor Leste lepas dari Indonesia, Dawuhan Wetan termasuk salah satu penyuplai merica perdu ke daerah tersebut. Selain daerah-daerah tersebut, merica perdu dari Dawuhan Wetan juga pernah dikirim ke Malaysia.

Sutikno juga sedang berusaha agar desanya menjadi sentra merica, mengingat sudah hampir seluruh warganya menanam merica perdu di kebun atau pekarangan rumah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar